ryokotomo.com –
Sanakatsu bukan istilah biasa di dunia politik. Ia lahir dari perpaduan nama Sanae dan kata “katsu” yang merujuk pada aktivitas dukung-mendukung layaknya fans idol. Fenomena ini membuat Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, menjelma menjadi ikon di kalangan anak muda. Antrean panjang terjadi bukan untuk konser, melainkan untuk membeli tas kulit hitam dan pena pink yang sama persis dengan yang dipakai Takaichi. Kok bisa? Mari kita bedah satu per satu.
Tas Kulit Hitam Rp2,8 Juta Sold Out Sampai 9 Bulan

Sanakatsu Viral Di Jepang: Mengapa Gen Z Antre Demi Tas Dan Pena Pm Takaichi?
Tas kulit hitam yang selalu dibawa Takaichi ke kantor perdana menteri bukan sembarang tas. Ia adalah “Grace Delight Tote” dari Hamano, produsen kulit berusia 145 tahun yang juga pemasok keluarga kerajaan Jepang. Harganya sekitar 900 dolar AS atau setara Rp2,8 juta. Sebelumnya, pembeli tas ini rata-rata berusia 40 hingga 50 tahun. Sekarang? Anak-anak muda berusia 20-an justru jadi pemburu utama.
Pihak Hamano sampai kewalahan. Backlog pesanan mencapai sembilan bulan. Takanori Kobayashi, direktur Hamano, mengaku terkejut melihat antusiasme generasi muda yang biasanya tidak tertarik pada produk kulit premium. Fenomena Sanakatsu benar-benar mengubah lanskap pasar.
Pena Pink Jetstream Jadi Incaran, Penjualan Naik 3-4 Kali Lipat

Sanakatsu Viral Di Jepang: Mengapa Gen Z Antre Demi Tas Dan Pena Pm Takaichi?
Di setiap sidang parlemen, Takaichi selalu mencatat dengan pena pink. Bukan pena sembarangan, melainkan Jetstream dari Mitsubishi Pencil, sebuah multi-pen yang menggabungkan empat warna tinta dan satu mekanisme pensil. Warnanya yang light pink langsung viral di media sosial.
Beberapa toko melaporkan penjualan warna pink melonjak tiga sampai empat kali lipat dari biasanya. Stok di banyak gerai habis dalam waktu singkat. Anak muda membeli pena ini bukan karena butuh alat tulis baru, tapi karena ingin merasakan koneksi dengan sosok yang mereka kagumi.
Kerupuk Udang Naik 10 Kali Lipat, Makanan Favorit pun Diburu

Sanakatsu Viral Di Jepang: Mengapa Gen Z Antre Demi Tas Dan Pena Pm Takaichi?
Sanakatsu tidak berhenti di fashion dan alat tulis. Kerupuk udang merek Sakakaku yang terlihat di tangan Takaichi saat naik kereta menuju Ise Jingu langsung jadi buruan. Penjualannya melonjak sekitar 10 kali lipat. Bahkan, sebuah hotel di Nara menciptakan menu “Sanakatsu Lunch” berisi nasi mentaiko, kroket, dan bakpao yang katanya adalah makanan kesukaan Takaichi.
Reservasi untuk makan siang itu mencapai 70 persen dari total pemesanan hotel. Awalnya hanya tersedia sepanjang Desember 2025, tapi diperpanjang hingga Februari 2026 karena permintaan yang tidak surut. Sanakatsu benar-benar mengubah perilaku konsumsi anak muda Jepang.
Dukungan Gen Z Tembus 90 Persen, Tertinggi di Antara Semua Kelompok Usia

Sanakatsu Viral Di Jepang: Mengapa Gen Z Antre Demi Tas Dan Pena Pm Takaichi?
Data dari Fuji News Network menunjukkan angka yang mengejutkan. Di kalangan pemilih di bawah 30 tahun, dukungan terhadap Takaichi mendekati 90 persen. Sementara itu, kelompok usia 70 tahun ke atas hanya berada di kisaran 53 persen. Ada jurang generasi yang sangat lebar.
Apa penyebabnya? Pengamat menyebut kemampuan Takaichi berkomunikasi lewat media sosial sebagai kunci. Ia punya sekitar 2,6 juta pengikut di X, jauh melampaui pemimpin oposisi yang hanya sekitar 64 ribu. Gaya bicaranya yang lugas, seperti “Saya akan bekerja, bekerja, dan terus bekerja,” terasa menyegarkan bagi anak muda yang lelah dengan retorika politik yang berbelit.
Sanakatsu Ubah Politik Jadi Budaya Pop yang Bisa Diikuti

Sanakatsu Viral Di Jepang: Mengapa Gen Z Antre Demi Tas Dan Pena Pm Takaichi?
Yang membuat Sanakatsu berbeda dari fenomena politik biasa adalah sifatnya yang partisipatif. Anak muda tidak hanya mendukung dari jauh. Mereka membeli barang yang sama, mengunjungi tempat yang sama, dan memakai tagar yang sama. Politik berubah menjadi sesuatu yang bisa diikuti seperti fandom K-pop atau klub sepak bola.
Seorang mahasiswa 19 tahun yang datang ke kampanye Takaichi di Akihabara mengaku datang karena penasaran dengan sosok yang disebut “imut” oleh teman-temannya. Ia bukan aktivis politik, melainkan anak muda biasa yang tertarik pada persona. Inilah kekuatan Sanakatsu: ia menjembatani jurang antara politik dan budaya populer.
Sanakatsu menunjukkan bahwa politik tidak harus selalu serius dan membosankan. Ketika seorang pemimpin memiliki persona yang kuat dan autentik, anak muda bisa tergerak tanpa dipaksa. Apakah fenomena ini akan bertahan setelah euforia pemilu mereda, hanya waktu yang tahu. Satu hal yang pasti: Sanakatsu telah membuktikan bahwa Gen Z bukan generasi apolitis, mereka hanya menunggu sosok yang tepat untuk dipercaya.
Untuk Informasi Unik dan Travel Jepang, selalu buka ryokotomo.comIkuti kami di Facebook, Twitter dan Instagram @ryokotomoid





