ryokotomo.com –
Black and White Challenge tengah jadi fenomena unik di Jepang. Bayangkan membuka bungkus keripik kentang favorit, tapi yang terlihat malah kemasan polos tanpa warna, hanya hitam dan putih. Itulah yang terjadi. Gerakan ini bukan sekadar tren foto filter monokrom biasa. Ada cerita lebih dalam di baliknya, dan dampaknya menyentuh hampir semua aspek kehidupan orang Jepang. Dari camilan sehari-hari sampai bendera negara, semua bisa berubah jadi hitam-putih.
Awal Mula Black and White Challenge dari Kelangkaan Nafta

Black And White Challenge, Ketika Orang Jepang Mengubah Segalanya Jadi Hitam Putih
Semua bermula dari keputusan Calbee, perusahaan camilan raksasa Jepang. Pada Mei 2026, mereka mengumumkan akan mengubah kemasan 14 produk utama, termasuk Potato Chips dan Kappa Ebisen, menjadi desain dua warna: hitam dan putih. Alasannya bukan soal estetika, melainkan kelangkaan nafta, bahan baku tinta cetak, akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Keputusan ini langsung memicu reaksi berantai. Warganet Jepang mulai mengunggah foto-foto yang telah diubah menjadi hitam-putih dengan tagar #白黒チャレンジ (Black and White Challenge). Awalnya sekadar parodi kemasan Calbee, tapi kemudian berkembang jadi gerakan yang lebih luas.
Makanan dan Camilan Jadi Sasaran Pertama

Black And White Challenge, Ketika Orang Jepang Mengubah Segalanya Jadi Hitam Putih
Dampak paling terasa memang di sektor makanan. Selain Calbee, perusahaan pasta dilaporkan menghapus logo berwarna dari kemasan dan menggantinya dengan kertas putih polos. Produsen ham juga dilaporkan tengah meninjau pengurangan warna pada kemasan mereka.
Di media sosial, pengguna mulai mengunggah foto makanan dengan filter hitam-putih. Mulai dari nasi, mi, sampai makanan ringan, semuanya diubah jadi monokrom. Ini bukan cuma soal tren visual, tapi cara orang menyampaikan pesan bahwa ada yang tidak beres dengan pasokan bahan baku.
Bendera Jepang Diubah Jadi Monokrom

Black And White Challenge, Ketika Orang Jepang Mengubah Segalanya Jadi Hitam Putih
Salah satu momen paling mencolok dari Black and White Challenge adalah ketika warganet mengubah bendera Jepang, Hinomaru, menjadi hitam-putih. Lingkaran merah di tengah bendera yang melambangkan matahari dihilangkan warnanya, diganti dengan hitam pekat. Aksi ini menuai pro dan kontra. Bagi sebagian orang, ini simbol perlawanan kreatif. Bagi yang lain, mengubah bendera negara dianggap sensitif dan tidak pantas.
Terlepas dari pro-kontra, aksi ini menunjukkan bahwa challenge ini sudah melampaui batas sekadar tren internet. Ia menjadi bahasa visual untuk menyuarakan keresahan.
Foto Masa Kecil dan Sekarang Jadi Tren Nostalgia

Black And White Challenge, Ketika Orang Jepang Mengubah Segalanya Jadi Hitam Putih
Black and White Challenge juga berkembang jadi tren nostalgia. Banyak pengguna membandingkan foto masa kecil mereka dengan foto terkini, keduanya diubah menjadi hitam-putih, lalu diunggah berdampingan. Kontras antara masa lalu dan sekarang terasa lebih kuat dalam nuansa monokrom.
Tren ini sangat populer di kalangan usia 30 sampai 40 tahun, yang memiliki kenangan masa kecil kuat. Komentar seperti “menangis lihat foto kecil” dan “waktu cepat sekali berlalu” memenuhi kolom komentar. Tagar #白黒チャレンジ mencatat jutaan tayangan di TikTok dan Instagram.
Kendaraan dan Barang Sehari-hari Ikut Jadi Hitam-Putih

Black And White Challenge, Ketika Orang Jepang Mengubah Segalanya Jadi Hitam Putih
Tidak berhenti di makanan dan foto. Pengguna juga mulai mengedit gambar mobil, sepeda motor, hingga barang-barang sehari-hari menjadi hitam-putih. Bahkan ada yang mengubah foto pertemuan politik, termasuk foto jamuan makan malam antara Perdana Menteri Jepang dan Presiden Amerika Serikat, menjadi monokrom.
Setiap gambar yang diubah jadi hitam-putih membawa pesan tersirat: “lihat, ini yang terjadi kalau kita kehabisan sumber daya.” Black and White Challenge bukan lagi sekadar permainan filter, tapi bentuk protes visual yang kreatif.
Respons Pemerintah dan Reaksi Publik

Black And White Challenge, Ketika Orang Jepang Mengubah Segalanya Jadi Hitam Putih
Pemerintah Jepang, melalui Perdana Menteri Sanae Takaichi, menyatakan bahwa pasokan minyak tidak bermasalah dan pasokan tinta cetak untuk tahun ini masih tercukupi. Namun, pernyataan ini tidak sepenuhnya menenangkan publik. Kelangkaan yang terlihat di rak-rak toko justru jadi bukti visual yang lebih meyakinkan daripada pernyataan resmi.
Di sisi lain, tidak semua orang menyambut baik gerakan ini. Ada yang menganggapnya berlebihan dan mengubah bendera negara sebagai tindakan tidak hormat. Tapi apapun reaksinya, Black and White Challenge telah berhasil menyita perhatian publik luas dan memicu diskusi tentang ketahanan ekonomi serta ketergantungan pada sumber daya impor.
Black and White Challenge menunjukkan bahwa kreativitas bisa muncul dari keterbatasan. Ketika tinta berwarna sulit didapat, orang Jepang justru mengubahnya jadi gerakan sosial yang penuh makna. Dari kemasan keripik sampai bendera, semuanya bisa jadi media untuk berbicara. Kalau kamu penasaran dengan tren serupa atau ingin melihat bagaimana kreativitas visual bisa jadi alat komunikasi, terus ikuti perkembangan Black and White Challenge di media sosial. Siapa tahu, gelombang berikutnya akan lebih besar lagi
Untuk Informasi Unik dan Travel Jepang, selalu buka ryokotomo.comIkuti kami di Facebook, Twitter dan Instagram @ryokotomoid





